PENULISAN ETIKA BISNIS

Posted: November 2, 2011 in Tugas2

I. Pengertian

Suatu etika bisnis bila dijabarkan dengan kata-perkat, seperti ini. Etika adalah perilaku

yang baik yang telah melekat pada diri manusia itu sendiri sebagai pedoman hidup, baik

dilakukan dalam kehidupan pribadi maupun social di masyarakat. Etika sangat lekat

hubungannya dengan adat istiadat di lingkungan masyarakat untuk di jadikan suatu

aturan bermasyarakat.

Sedangkan Bisnis adalah suatu kegiatan yang didalamnya melakukan transaksi ekonomi

antar pembeli dan penjual dengan tujuan dapat memperoleh keuntungan satu sama lainnya

pada saat berbisnis.

Jadi pengertian etika bisnis adalah perilaku manusia di dalam lingkungan untuk melakukan

transaksi bisnis dengan menggunakan beberapa aturan untuk mencapai suatu keuntungan bersama.

II. Standar Moral diaplikasi dalam Bisnis

A. Perkembangan Moral
Riset psikologi menunjukkan bahwa, perkembangan moral seseorang dapat berubah ketika dewasa.

Saat anak-anak, kita secara jujur mengatakan apa yang benar dan apa yang salah, dan patuh untuk

menghindari hukuman. Ketika tumbuh menjadi remaja, standar moral konvensional secara bertahap

diinternalisasikan. Standar moral pada tahap ini didasarkan pada pemenuhan harapan keluarga, teman

dan masyarakat sekitar. Hanya sebagian manusia dewasa yang rasional dan berpengalaman memiliki

kemampuan merefleksikan secara kritis standar moral konvensional yang diwariskan keluarga, teman,

budaya atau agama kita. Yaitu standar moral yang tidak memihak dan yang lebih memperhatikan

kepentingan orang lain, dan secara memadai menyeimbangkan perhatian terhadap orang lain dengan

perhatian terhadap diri sendiri.
Menurut ahli psikologi, Lawrence Kohlberg, dengan risetnya selama 20 tahun, menyimpulkan,

bahwa ada 6 tingkatan (terdiri dari 3 level, masingmasing 2 tahap) yang teridentifikasi dalam

perkembangan moral seseorang untuk berhadapan dengan isu-isu moral. Tahapannya adalah sebagai berikut :

1) Level satu : Tahap Prakonvensional
Pada tahap pertama, seorang anak dapat merespon peraturan dan ekspektasi sosial dan dapat menerapkan

label-label baik, buruk, benar dan salah.
Tahap satu : Orientasi Hukuman dan Ketaatan
Pada tahap ini, konsekuensi fisik sebuah tindakan sepenuhnya ditentukan oleh kebaikan atau keburukan tindakan itu.

Alasan anak untuk melakukan yang baik adalah untuk menghindari hukuman atau menghormati kekuatan otoritas f

isik yang lebih besar.
Tahap dua : Orientasi Instrumen dan Relativitas
Pada tahap ini, tindakan yang benar adalah yang dapat berfungsi sebagai instrument untuk memuaskan

kebutuhan anak itu sendiri atau

kebutuhan mereka yang dipedulikan anak itu.

2) Level dua : Tahap Konvensional
Pada level ini, orang tidak hanya berdamai dengan harapan, tetapi menunjukkan loyalitas terhadap kelompok beserta norma-normanya. Remaja pada masa ini, dapat melihat situasi dari sudut pandang orang lain, dari perspektif kelompok sosialnya.
Tahap Tiga : Orientasi pada Kesesuaian Interpersonal
Pada tahap ini, melakukan apa yang baik dimotivasi oleh kebutuhan untuk dilihat sebagai pelaku yang baik dalam

pandangannya

sendiri dan pandangan orang lain.
Tahap Empat : Orientasi pada Hukum dan Keteraturan
Benar dan salah pada tahap konvensional yang lebih dewasa, kini ditentukan oleh loyalitas terhadap negara atau

masyarakat sekitarnya

yang lebih besar. Hukum dipatuhi kecuali tidak sesuai dengan kewajiban sosial lain yang sudah jelas.

3) Level tiga : Tahap Postkonvensional, Otonom, atau Berprinsip
Pada tahap ini, seseorang tidak lagi secara sederhana menerima nilai dan norma kelompoknya. Dia justru berusaha

melihat situasi dari

sudut pandang yang secara adil mempertimbangkan kepentingan orang lain. Dia mempertanyakan hukum dan nilai yang

diadopsi oleh masyarakatdan mendefinisikan kembali dalam pengertian prinsip moral yang dipilih sendiri yang

dapat dijustifikasi secara rasional.

Hukum dan nilai yang

pantas adalah yang sesuai dengan prinsip-prinsip yang memotivasi orang yang rasional untuk menjalankannya.
Tahap Lima : Orientasi pada Kontrak Sosial
Tahap ini, seseorang menjadi sadar bahwa mempunyai beragam pandangan dan pendapat personal yang bertentangan dan

menekankan cara yang adil

untuk mencapai consensus dengan kesepahaman, kontrak, dan proses yang matang. Dia percaya bahwa nilai dan norma

bersifat relative, dan terlepas dari

consensus demokratis semuanya diberi toleransi.
Tahap Enam : Orientasi pada Prinsip Etika yang Universal
Tahap akhir ini, tindakan yang benar didefinisikan dalam pengertian prinsip moral yang dipilih karena komprehensivitas,

universalitas, dan konsistensi.

Alasan seseorang untuk melakukan apa yang benar berdasarkan pada komitmen terhadap prinsip-prinsip moral tersebut dan dia melihatnya sebagai criteria untuk mengevaluasi semua aturan dan tatanan moral yang lain.

Teori Kohlberg membantu kita memahami bagaimana kapasitas moral kita berkembang dan memperlihatkan bagaimana

kita menjadi lebih berpengalaman dan

kritis dalam menggunakan dan memahami standar moral yang kita punyai. Namun tidak semua orang mengalami

perkembangan, dan banyak yang berhenti pada

tahap awal sepanjang hidupnya. Bagi mereka yang tetap tinggal pada tahap prakonvensional, benar atau salah t

erus menerus didefinisikan dalam pengertian

egosentris untuk menghindari hukuman dan melakukan apa yang dikatakan oleh figur otoritas yang berkuasa.

Bagi mereka yang mencapai tahap konvensional,

tetapi tidak pernah maju lagi, benar atau salah selalu didefinisikan dalam pengertian

norma-norma kelompok sosial mereka atau hukum Negara atau masyarakat mereka.

Namun demikian, bagi yang mencapai level postkonvensional dan mengambil pandangan yang

reflektif dan kritis terhadap standar moral yang mereka yakini,

benar dan salah secara moral didefinisikan dalam pengertian prinsip-prinsip moral yang mereka pilih bagi mereka sendiri sebagai yang lebih rasional dan memadai.

B. Penalaran Moral
Penalaran moral mengacu pada proses penalaran dimana prilaku, institusi, atau kebijakan dinilai

sesuai atau melanggar standar moral. Penalaran moral selalu

melibatkan dua komponen mendasar :

1. Pemahaman tentang yang dituntut, dilarang, dinilai atau disalahkan oleh standar moral yang masuk akal.

2. Bukti atau informasi yang menunjukkan bahwa orang, kebijakan, institusi,

atau prilaku tertentu mempunyai ciri-ciri standar moral yang menuntut, melarang,

menilai, atau menyalahkan.

3. Menganalisis Penalaran Moral
Ada beberapa criteria yang digunakan para ahli etika untuk mengevaluasi

kelayakan penalaran moral, yaitu :

· Penalaran moral harus logis.

· Bukti factual yang dikutip untuk mendukung penilaian harus akurat, relevan dan lengkap.

· Standar moral yang melibatkan penalaran moral seseorang harus konsisten.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s