Teknik wawancara (MSDM)

Posted: November 22, 2009 in Tugas2

Teknik Wawancara

I. Pendahuluan

Sumber berita, selain diperoleh dalam suatu peristiwa atau kejadian di lapangan juga bisa dari hasil wawancara. Mengadakan wawancara atau interview pada prinsipnya merupakan usaha untuk menggali keterangan yang lebih dalam dari sebuah berita dari sumber lain yang relevan. Informasi atau keterangan itu bisa berupa pendapat, kesan, pengalaman, pikiran dan sebagainya.

Dalam dunia jurnalistik, wawancara selalu dimaksudkan sebagai upaya untuk  mendapatkan berita, komentar atau opini sehubungan dengan sesuatu yang berhubungan dengan otoritas yang dimiliki seseorang. Misalnya, untuk mendapatkan keterangan atau informasi tentang kampanye advokasi penegelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan atau perubahan PP tentang pengelolaan hutan negara.

Person yang mempunyai otoritas untuk itu cukup banyak, dari Kelopok Tani Hutan, Kepala Dinas Kehutanan sampai Menteri Kehutanan. Namun wawancara yang dilakukan untuk mendapat bahan tulisan yang bersifat ‘human interes’ tidak harus dilakukan dengan seseorang yang mempunyai otoritas tetapi siapapun bisa menjadi sumber berita untuk diwawancarai.

Misalnya, kelompok tani di Gunungkidul dan Kulonprogo yang tengah berjuang untuk mendapat izin pengelolaan hutan negara tidak hanya sekadar 5 tahun, tetapi 35 tahun. Perjuangan ini sangat menarik karena menyangkut mati hidup kelompok tani yang berada di sekitar hutan. Hidup dan matinya masyarakat di sekitar hutan tiba-tiba diputus tentu akan menjadi pusat perhatian.

Untuk melengkapi dan mempertajam suatu berita wartawan harus melakukan wawancara. Misalnya, seseorang berhasil mengendus kasus illegal logging, selain memberitakan kasus didapatkan dari pernyataan seseorang harus mencari informasi yang akurat dan faktual untuk mendapat kebenaran dari kasus tersebut kepada yang lebih punya otoritas untuk memperjelas persoalan, siapa di balik kasus tersebut dan sebagainya.

Hasil dari wawancara diharapkan menjadi laporan yang lebih lengkap dengan  mengungkapkan fakta yang lebih lengkap pula, memberikan gambaran yang lebih  lengkap tentang illegal logging. Wawancara dapat dilakukan dengan pemangku adat, polisi hutan, masyarakat di sekitar hutan, juga penguasa di tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten, gubernur, Kapolri sampai pelaku.

Dengan demikian berita yang disajikan merupakan perpaduan antara fakta (facs news) dan opini atau pendapat atau omongan (talk news). Untuk menggali keterangan atau informasi atau keterangan dari seseorang, wawancara yang diperlukan tidak sekadar sambil lalu, tetapi memerlukan kekhususan. Dalam dunia jurnalistik wawancara khusus opini mempunyai nilai tambah, lebih-lebih kalau yang menjadi sumber wawancara memiliki nama atau keistimewaan dan opini yang dikemukakan merupakan suatu yang sama sekali baru dan belum pernah dikemukakaan kepada media lain.

II. Persiapan Wawancara

Untuk melakukan wawancara memerlukan persiapan dengan langkah-langklah sebagai berikut:

Pertama, sebelum melakukan wawancara harus menguasai persoalan yang akan dipercakapkan, kalau perlu membuat daftar pertanyaan dari yang bersifat umum sampai detail.

Kedua, tahapan berikutnya menentukan arah permalahan yang digali dengan dilengkapi berbagai berita berkaitan dengan bahan yang akan dijadikan bahan wawancara.

Ketiga, setelah menentukan permasalahan, menetapkan siapa-siapa saja yang akan menjadi nara sumber untuk diwawancarai. Dalam hal ini harus jelas kriterianya mengapa dalam masalah ini harus mewawancarai nara sumber tersebut.

Keempat, mengenali sifat-sifatnya yang akan menjadi nara sumber sebelum terjadi wawancara. Untuk mengenali lebih dekat nara sumber, bertanya kepada oranglain yang tahu atau dekat dengan nara sumber, atau membaca tulisan dan riwayat hidup termasuk hobi, keluarganya, dan kesukaan lainnya.

Kelima, sebelum bertatap muka membuat janji dulu sebelum melakukan wawancara, untuk meminta dan m,enentukan kapan waktu yang luang dan tepat tepat untuk melakukan wawancara, karena biasanya sumber berita person yang sibuk, sehingga pengaturan waktu cukup ketat.

Keenam, yang tak kalah pentingnya persiapan mental untuk mengadakan wawancara, karena masing-masing pribadi punya karakter yang berbeda, sehingga diperlukan membaca karakter calon nara sumber. Persiapan lainnya, peralatan yang diperlukan antara lain, bloknote, ballpoint, tape recorder atau kamera kalau memang diperlukan. Dianjurkan untuk berpakaian rapi dan menghindari penampilan yang kurang sopan.

Persiapan-persiapan tersebut penting untuk mendapat perhatian, karena jangan sampai mempermalukan diri sendiri, lebih-lebih lembaga yang menjadi induk dari kegiatan wawancara ini. Dengan persiapan yang matang insya Allah mampu menggali sumber berita atau informasi yang diperlukan untuk mengembangkan berita dan sekali lagi sebelum bertemu dengan nara sumber cek ulang peralatan jurnalistik.

Untuk mendapatkan hasil yang baik maka harus mampu menemukan orang yang, sesuai dengan bidang dan keahlian, atau bisa juga karena hobi terkait dengan permasalahan yang akan menjadi topik wawancara. Misalnya, soal kerusakan lingkungan tentunya wawancara di arahkan kepada orang-orang menguasai masalah tersebut, sehingga pembicaraan ‘nyambung’.

Kalau sudah ada janji mau wawancara dan waktu sudah ditentukan maka sudah  selayaknya menepati waktu yang sudah disepakati bersama. Namun wawancara itu bisa dilakukan di manadan kapan saja, asal sama-sama dalam kondisi yang memang sifatnya

serba mendadak, tetapi penguasan masalah tetap harus dipegang, supaya informasi yang didapatkan sesuai dan memberi nilai tambah pada berita yang diharapkan.

Wawancara bisa dilaksanakan di mana saja, seperti di depan pintu, ketika nara sumber sedang masuk mobil asal nara sumber memberi kesempatan seperti itu. Namun itu diperlukan persiapan matang dari wartawan yang bersangkutan, terutama pengenalan lebih dulu pewancara dengan nara sumber.

III. Pelaksanaan Wawacara

Tiba saatnya wawancara yang perlu mendapat perhatian hal-hal sebagai berikut:

1. Menjaga Suasana

Ini sangat penting dalam pelaksanaan wawancara dibuat lebih rileks, sehingga berjalan dengan santai tidak terlalu formal meskipun membahas masalah yang serius. Untuk menciptakan suasana yang nyaman dan baik memerlkan waktu, karena itu sebelum memasuki materi yang akan dipercakapkan lebih enak kalau dibuka dengan hal-hal yang umum. Misalnya, soal keadaan nara sumber baik itu masalah kesehatan, hobi dan  sebagainya yang mungkin menyetuh hati.

Meski sifat basa-basi ini diperlukan untuk menarik simpati supaya nara sumber sehingga tidak terlalu pelit dengan pernyataan atau pendapat baru. Kecuali kalau pewawancara sudah sangat dekat basa-basi itu bisa dikurangi, lebih-lebih kalau memang waktu untuk wawancara sangat terbatas, pewawancara harus tanggap. Itupun juga kita dibicarakan sebelum melangsungkan wawancara.

Dalam menjaga suasana ini sudah selayaknya dilakukan, antara lain jangan membuat nara sumber marah atau tersinggung, sehingga percakapan langsung diputus. Jangan marah – marah atau memojokkan nara sumber.

2. Bersikap Wajar

Dalam wawancara seringkali berhadapan dengan nara sumber yang benar-benar pakar, tetapi tidak jarang yang dihadapi tidak menguasai persoalan. Namun demikian tidak perlu rendah diri atau merasa lebih tinggi dari nara sumber, seharusnya bisa mengimbangi atau mengangkatnya. Pewawancara juga harus bisa mencegah supaya nara sumber tidak berceramah, karena itu persiapan menghadapi berbagai karakter ini sangat diperlukan.

Karena itu dalam persiapan wawancara ini diperlukan,menguasai materi, selain  menguasai nara sumber dan pandai-pandai membawakan diri agar tidak direndahkan.

Apabila menghadapi nara sumber yang tidak menguasai masalah bisa mengarahkan tetapi

tanpa harus menggurui, sehingga bisa memahami persoalan yang akan digali.

3. Memelihara Situasi

Secara sadar sering terbawa emosi, sehingga lupa sedang menghadapi nara sumber, karena itu dalam wawancara harus pandai-pandai memelihara situasi supaya mendapat informasi yang dibutuhkan dan jangan sampai terjebak ke dalam situasi perdebatan dengan nara sumber yang diwawancarai. Juga perlu dihindari situasi diskusi yang berkepanjangan atau bertindak berlebihan sampai menjurus ke arah interograsi apalagi menghakimi.

Misalnya, wawancara dengan seorang direktur rumah sakit terkait dengan kasus flu burung, karena etika kedokteran, sehingga harus dijaga dirahasiakan. Namun  pewawancara memaksakan kehendak, sehingga menimbulkan ketegangan dan  menghakimi direktur tersebut, bukan mendapat informasi malah tidak mendapatkan

informasi yang dibutuhkan. Dalam menghadapi kasus seperti itu pewawancara harus

mampu mencari celah untuk kembali pada situasi, agar mendapatkan informasi yang

lebih jelas.

4. Tangkas Menarik Kesimpulan

Pada saat wawancara berlangsung dituntut untuk secara setia mengikuti setiap jawaban yang diberikan nara sumber untuk menarik kesimpulan dengan tangkas. Dengan  kesimpulan yang tepat wawancara terus bisa dilanjutkan secara lancer. Kesalahan yang

sering dilakukan wartawan pada saat mengambil kesimpulan kurang tangkas, sehingga nara sumber harus mengulang kembali apa yang telah disampaikan.

Kalau itu terjadi berulangkali maka akan membuat nara sumber bosan, sehingga

wawancara tidak berkembang, membuat pintu informasi menjadi tertutup. Akibat yang

paling parah kehilangan sumber berita, karena nara sumber takut salah kutip. Bagi nara

sumber yang teliti dan kritis, satu persatu kalimat akan menjadi pengamatan. Salah kutip

ini harus dihindari dalam setiap wawancara, Jangan takut minta pernyataan diulang atau

bahkan ada kata yang kurang jelas seperti ucapan bahasa Inggris harus selalu dicek

kebenaran arti dan ejaannya.

5. Menjaga Pokok Persoalan

Menjaga pokok persoalan sangat penting dalam setiap wawancara agar dalam menggali informasi mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan hasil yang memuaskan. Seringkali dalam menjaga pokok persoalan ini diliputi perasaan rikuh kalau kebetulan ayng diwawancari pejabat atau mempunyai otoritas dalam hal tertentu. Serngkali untuk menjaga situasi ini ada anjuran pewawancara mengikuti apa yang dikatakan nara sumber.

Meski harus mengikuti pembicaraan nara sumber diharapkan tidak lari dari pokok  persoalan bahkan berusaha mempertajam pokok masalah, agar tetap mendapatkan

informasi yang dibutuhkan. Contohnya, untuk mendapat gambaran yang lebih jelas

tentang kerusakan lingkungan, pada awalnya memang bercerita tentang lingkungan tetapi

di tengah-tengah pembicaraan membelok ke arah lain dan menyimpang dari pokok

persoalan. Kalau sudah demikian maka yang dilakukan segera mengembalikan inti persoalan.

6. Kritis

Sikap kritis perlu dikembangkan dalam wawancara agar mendapat informasi yang lebih terinci dan selengkap-lengkapnya. Untuk itu diperlukan kejelian dalam menangkap  persoalan yang berkaitan dengan pokok pembicaraan yang sedang dikembangkan. Jeli

dan kritis merupakan kaitan dengan kemampuan menangkap setiap kata dan kalimat

yang disampaikan oleh nara sumber.

Kekritisan tersebut tidak hanya menyangkut pokok persoalan, tetapi juga menangkap gerakan-gerakan yang diwawancarai. Berkait dengan pokok persoalan kalau kritis menangkapnya maka bisa meluruskan data bila nara sumber salah mengungkapkannya. Baik itu tentang angka, tempat kejadian dan sebagainya. Ini penting sebagai bahan untuk menuliskan laporan, sehingga benar-benar utuh dan penuh warna.

Kalau perlu ketika nara sumber sedang memberikan keterangan dalam keadaan gelisah, terus menerus mengepulkan asap rokok dan sebagainya, hal ini harus ditangkap sebagai isyarat yang bisa dituangkan dalam tulisan. Dengan demikian pembaca mendapat gambaran utuh dan laporan tidak kering.

7. Sopan Santun

Dalam wawancara sopan santun perlu dijaga, karena ini menyangkut etikat pergaulan di dalam masyarakat yang harus mendapat perhatian dan dipegang teguh. Dalam menghadapi nara sumber kendali sudah mengkenal betul, tidak bisa bersikap  sembarangan, sombong atau perilaku yang tidak simpatik lainnya. Bila akan merokok,

sementara nara sumber tidak merokok harus minta izin. Apalagi kalau ruangan tempat

wawancara ber-AC maka sopan santun perlu dijaga.

Di awal maupun di akhir wawancara jangan lupa mengucapkan rasa terima kasih kepada nara sumber. Karena telah memberikan kesempatan dan mendapatkan informasi dari hasil wawancara. Pada akhir wawancara pesan kepada nara sumber untuk tidak keberatan dihubungi bila ada data yang diperlukan ternyata masih kurang.

Hal-hal praktis yang perlu mendapat perhatian dalam mengadakan wawancara berkaitan dengan sopan santun :

Tidak perlu gusar bila nara sumber yang menjadi target wawancara menolak dengan alasan sibuk. Mencoba dan mencoba lagi, agar diberi waktu untuk wawancara merupakan suatu upaya, sampai mendapat kesempatan untuk membuat perjanjian waktu.

Untuk mendapat perjanjian bisa melalui telepon atau mendatangi langsung kantor atau rumahnya. Dihindari datang terlambat pada saat akan melakukan wawancara dan lebih baik datang lebih awal.

Jangan sampai salah mengeja nama orang yang diwawancarai dan lebih baik minta kartu nama atau paling tidak ketika nama nara sumber itu sulit dieja diminta dengan hormat untuk menuliskan di bloknote yang digunakan untuk mencatat hasil wawancara. Cek kembali peralatan tulis apakah sudah lengkap, karena kalau sampai ada peralatan tidak terbawa bisa membuat suasana awal dari wawancara menjadi kurang berkesan. Sebutkan alasan melakukan wawancara dengan tempat kerja, sehingga nara sumber yang diwawancarai mengerti benar maksud wawancara. Tidak perlu menjanjikan kepada nara sumber hasil wawancara pasti dimuat, namun bisa meberikan keyakinan kegunaan dari hasil wawancara tersebut.

IV. Penulisan Wawancara

Hasil wawancara bisa dituangkan dalam beberapa bentuk penulisan sesuai dengan tujuan wawancara yang telah dilakukan. Bila hasil wawancara akan digabungkan dengan hasil wawancara yang lain, cara menuliskannya akan lain dengan bentuk penulisan yang

didasarkan pada satu wawancara. Hasil wawancara dapat dipergunakan untuk bahan

penulisan berita atau straight news, laporan atau tulisan khusus wawancara.

Sumber : Google ( Mulyadi Adhisupo )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s